:::: my blog.packer photo ::::

Blog Entry::: 04/The Killing Fields - Phnom Penh :::Apr 11, '06 12:00 PM
for everyone
"The Killing Fields"
Apa yang anda ketahui begitu anda mendengar kata "Ladang pembantaian" ? mungkin kening anda sedikit berkerut, jika kata itu saya ubah menjadi "The Killing Fields" saya yakin kening anda akan semakin berkerut teringat judul Film yang di bintangi Dr. Haing S, Ngor. Film yang memenangkan Oscar bagi dia sendiri untuk kategori peran pembantu. Film ini bercerita tentang pembantaian manusia pada waktu rezim Jend. Lon Nol saat berkuasa di negara Cambodia. Pembantaiannya dilakukan oleh Polpot salah seorang komandan tentara Khmer Merah, beserta anak buahnya serta kejadiannya sendiri dilakukan secara sistematis dalam kurun waktu antara tahun 1975-1979 dengan dugaan korban yang tewas terbunuh atau hilang mencapai kira-kira 2 juta orang. Ah tentunya saya tidak akan bercerita tentang Polpot and the gank yang dengan kejamnya membantai hampir 2 juta orang-orang Cambodia.

Hari ini saya ada di Phnom Penh, kota ketiga yang saya kunjungi setelah Singapore dan Ho Chi Minh. Perjalanan ini adalah perjalanan keliling kota-kota di Asia Tenggara. Rancangan rute, transportasi serta penginapan dijalani ala backpacker dan dibawah ini adalah salah satu catatan perjalanan saya.

CHOENG EK
Itu tulisan yang tertera di relief pada sebuah Diorama kecil di depan pintu masuk menuju areal ladang. Choeng Ek adalah nama suatu daerah dipinggiran kira-kira 30 Km dari dari kota Phnom Penh. Tempatnya sepertinya masih perawan (nah ini hutan perawan bukan hutan bujang karena masih lebat oleh pepohonan). Pantes ajah Polpot memilih tempat ini, dari suasanya ajah sudah terasa banget sunyi dan menimbulkan kesan gimana gitu...:(.

Tiba didekat lokasi ternyata sudah banyak minivan sejenis, saya lihat ada beberapa rombongan turis bule ada juga turis Asia lainnya kemungkinana dari India/Pakistan. Dan seperti objek-objek sejenis, selalu ajah ada kios menjual souvenir, ada baju yang bergambar (ah ga jelas gambarnya samar-samar seperti gambar hutan, mungkin foto ladang yang disablon ke baju) di gantung di depan kios. Di etalase yang tertata rapi ada beberapa pernak pernik yang sepintas saya lihat bentuknya mirip dengan yang di dijual di counter-counter cinderamata Sarinah dan Pasaraya Jakarta. Setelah turun dari minivan sayapun berjalan sedikit keluar areal parkir, diistu ada semacam monumen kecil dari batu-batu yang disemen. Berupa Diorama dengan tulisan yang lagi-lagi saya lupa kalimatnya (jadi inget jaman Sekolah dasar setiap kunjungan ke museum wajib mencatat apa yang lihat) kebetulan saya tidak membawa kertas atau bolpoin jadi saya tidak bisa kasih tahu tulisan di papan itu, yang saya ingat ada kata-kata Choeng Ek deh.

Tidak ada pintu loket, tidak ada ruang administrasi, apalagi para wanita pager ayu (halaaa emang di kawinan, pake pager ayu segala) yang ada pager tanaman dan gardu kecil tempat petugas jaga menunggu serta meja kecil untuk membeli tiket masuk. Dari situ kami masuk melewati gardu tadi dan didepan kami langsung saja terlihat areal tanah yang berupa ladang dengan luas hmmm seberapa lebar yah (ga bawa meteran sih), yang pasti tidak begitu luas kira-kira seluas lapang bola (wah sok tahu, memang ukuran lapang sepakbola berapa??) dari depan pintu masuk setelah membayar 2 dollar untuk donasi pemeliharaan, nampaklah sebuah bangunan yang saya perkirakan lebarnya 12x12 meter, berdiri kokoh menjulang tinggi, dari kejauhan bangunan ini sudah terlihat, berarsitektur khas Cambodia.

Bangunan ini berlevel 17 (ntah kenapa musti 17 tingkat, saya tidak tahu apakah jendelanya berjumlah 8 dan atapnya berjumlah 45), bangunan ini dibuat pemerintah Cambodia untuk memperingati peristiwa memilukan bagi bangsa Cambodia, peristiwa pembantaian umat manusia. Bangunan ini dibuat untuk menyimpan tengkorak dan tulang2 korban pembantaian Polpot. Dari bilik-bilik bangunan yang didominasi kaca itu kita dapat melihat puluhan tengkorak. Setiap bilik/level di disusun berdasarkan usia, dari balita, muda hingga dewasa, laki-laki atau perempuan. Misal bilik paling bawah berisi baju-baju para korban, baju itu sudah diberi cairan kimia jadi tidak rusak atau hancur. Didramatisir sedikit ada sepotong sepatu korban berwarna lusuh dan kusam, yang ditonjolkan keluar kaca. Kemudian di bilik diatasnya lagi ada kumpulan tengkorak kepala korban dengan deskripsi berisi potongan tengkorak kepala pria dewasa, bilik berikutnya beberapa tengkorak yang sebagian besar hancur/ ada yang retak, bolong dan kerusakan lainnya. Bilik berikutnya berupa potongan tulang belulang, hingga 17 bilik semuanya berisi tulang-tulang dan tengkorak tentunya dengan deskripsi korban yang berbeda-beda.

Pemandangan didepan ini saya lahap dengan kamera pocket. Semua sudut saya foto hingga akhirnya tiba-tiba semangat memotret saya langsung hilang begitu saja. Mungkin gara-gara terus menerus melihat tumpukan tengkorak2 dan tulang belulang. Dari pengamatan saya, bisa di simpulkan seperti apa korban-korban itu meninggal, jika tengkorak itu berlubang di kepalanya berarti si korban di tembak langsung, .... ada tengkorak dengan kepala retak artinya kepalanya di ganjuk atau dipukul sampai mati, atau kalau badannya di temukan tanpa kepala berarti ... berarti aduh..... wah ngga kuat neh ngebayanginnya. Tidak usah bandingkan dengan adengan suster ngesot di film Horor ala Indonesia. Suasana disini jauh berbeda melihat langsung dengan mata kepala sendiri. Pokonya seyehm deh, pikiran akhirnya jadi kemana-mana. Meriding rasanya , akhirnya saya putuskan untuk keluar dari bangunan ini.

Di ladang pembantaian
Berjalan sedikit ke belakang ada beberapa bangunan kecil, saya datangi dan saya lihat di bangunan kecil itu ada tulisan didinding tentang sejarah tempat ini, berikut beberapa foto yang dibingkai. Beberapa foto sepertinya diambil saat ladang-ladang ini ditemukan oleh pasukan Vietnam. Fotonya hitam putih agak pucat dan ngeblur kemungkinan hasil perbesar dari foto asli berukuran postcard. Tidak berlama-lama saya disini, karena saya lebih tertarik pergi kebelakang bangunan untuk melihat langsung lokasi ladang-ladang pembunuhan itu.

Dan astaga...!! ini dia ladang-ladang itu, saya coba ingat-ingat lagi beberapa adegan di film The Killing fileds. Adegan hujan deras di ladang saat Dr. Haing S, Ngor berjalan diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Berjalan perlahan sambil membayangkan adengan itu, tampaklah didepan saya beberapa lubang-lubang yang saling berdekatan, saya taksir diameternya kira-kira 3x3 meter, tidak seperti keadaan di film yang terlihat dramatis, ladang yang saya lihat ini terlihat hening dan sepi. Berupa tanah luas, di sekeliling areal di tumbuhi pohon besar nan rindang, sementara tanah yang saya injak terlihat hijau oleh rumput, tak akan menyangka dulu belasan tahun yang lampau tempat ini menjadi saksi sejarah bisu bagaimana umat manusia dibantai dengan kejamnya.

Setiap lubang di sertakan keterangan tertulis, semisal 1 lubang yang berukuran 3x 3 meter disisinya ada papan kecil yang berisi catatan berapa jumlah korban yang ditemukan dalam kuburan tersebut. Di lubang yang lain dijelaskan juga bahwa dalam lubang tersebut ditemukan korban sebanyak 60 orang tanpa kepala (iyah betul tanpa kepala, masa saya bohong??), sementara itu disampingnya dengan diameter yang agak lebih lebar kira-kira 6x6 meter tertulis disitu telah ditemukan kurang lebih 100 anak-anak dan wanita dewas korban pembantaian. Dan banyak lubang lain yang masing-masing lubang diisi korban yang berbeda-beda jumlahnya dan juga disesuaikan dengan umur serta jenis kelamin.

Betul-betul membuat bulu kuduk saya bergidik. Membayangkan saja sudah bikin mual, apalagi kini saya berada di dekat di lubang-lubang itu..ihhh. Untuk meredakan ketidaknyamanan hati, akhirnya saya segera menjauh, memutar jalan sedikit menghindar lubang-lubang lain. Segera saja saya berjalan cepat-cepat karena sekeliling saya saat itu tidak ada orang sepi sekali, ada perasaan ngga enak. Langsung saja saya teringat cerita sinetron tentang arwah yang bangkit dari kubur.. halllaaa... (Moral cerita ; sebelum pergi ketempat ini sebaiknya film yang ditonton misal film kartun Tom and Jerry saja jangan lihat sinetron horor).

Magic Tree
Setelah melewati beberapa pepohonan yang lebat , mata saya tertuju pada sebuah pohon besar. Disitu ada papan yang bercerita tentang pohon ini. Yang membuat saya tercengang adalah tulisan yang ada disitu, dijelaskan pohon ini namanya Magic Tree, konon dipohon ini digantung sebuah speaker oleh prajurit Khmer Merah, speaker itu di hubungkan dengan radio, radio dipasang dengan suara keras. Suara keras ini untuk memanipulasi bunyi tembakan atau menutupi suara korban yang menjerit kesakitan karena disiksa ntah dipancung, ditembak, dipenggal atau ach..... Subhanallah.... (*ngetiknya ajah sampe meriding neh*) celeguukk.... hmmm tak perlu bercerita panjang lagi deh, karena bulu kuduk saya jadi berdiri tambah kenceng ngebayangin kejadian tersebut .

Kembali ke acara berfoto ria, lupakan cerita meriding, mending nulis cerita lucu. Ini sebenarnya bukan cerita lucu tapi bisa ajah jadi lucu hehehe. Saat itu saya sedang memotret beberapa areal ladang, di kejauhan sekitar 50 meter dari tempat saya berdiri, ada sebuah danau. Tepatnya sih bukan danau, ada semacam kolam berisi air yang cukup besar, didalamnya ada beberapa anak sedang berenang-renang bergembira ria. Tak jauh dari situ ada beberapa kerbau sepertinya mereka sedang bermain di air sambil mengembalakan binatang tersebut. Didekat situ, saya lihat ada seorang turis wanita, sepertinya orang Jepang, asyik bener dia memotret mereka. Dan begitulah anak-anak, begitu ada yang memotret mereka, kontan saja (sambil bertelanjang tentunya) mereka keluar dari kolam sambil berteriak teriak kegirangan. Dihampirilah si wanita turis Jepang itu, si turis tentu saja senang karena "model"nya datang sendiri..

“One, two, three smile, look my picture, you get my picture?” begitu mereka bicara, wah fasih juga tuh mereka ber"Inggris" ria. Tapi sejurus kemudian kayanya ada yang ngga beres neh. Begitu selesai di foto, ternyata mereka terus mendekati si wanita tersebut. Rupanya mereka meminta upah setelah difoto. Saya yang berdiri dekat-dekat situpun tak luput dari perhatian mereka dan langkah 20pun saya ambil (tidak mungkin langkah seribu, kebanyakan euy...) karena ternyata mereka berlari juga kearah saya, waks!!! dasar anak-anak.

Cerita di ladang pembantaian sampai disini saja dulu, terlalu banyak kengerian yang sulit untuk diceritakan, selain itu saya harus melanjutkan cerita perjalanan saya yang lain, yaitu cerita perjalanan ke sebuah museum yang sama bentuknya, Museum Genocide Tuol Seng, masih di Phnom Penh juga. Lihat Catper 07 Museum Tuol Seng "Cerita Tentang Kebiadaban Manusia"


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
wiegie wrote on Apr 12, '06
Pol Pot itu setali tiga uang ama Westerling 'n Hitler yak?!
16j42 wrote on Apr 12, '06
terima kasih atas laporannya yang bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi penyimak prilaku ummat manusia dari zaman ke zaman, di seantero jagad dunia -- termasuk nusantara. dan hebat juga orang kamboja itu, yah! dah secara jantan mengungkap-pamerkan ke mata dunia tentang kejahatan kemanusiaan yang terjadi dinegeri-negaranya. sungguh beda dengan bangsa indonesia -- terutama sekali dalam periode berjaya-jayanya orde baru. di kawasan ini, terutama di jateng dan bali -- mana ada itikad pihak yang bertanggungjawab atau yang berwajib mengungkap-angkat rangkaian peristiwa berdarah (bloodbath's archipelago -- menurut pakar amerika noam chomsky) yang juga ada yang menyatakan jumlah korbannya 2 juta manusia -- yang terjadi dalam tahun tahun 1965-66.

(kohar)
evimeinar wrote on Apr 12, '06
Ntarrr aku lupa, kayaknya pernah nonton tuhh film... dicerita itu akhirnya dia bs ke amrik dan ngumpul dgn keluarganya yg lbh dulu imigrasi... bener gak?
segarselalu wrote on Apr 12, '06
dulu juga pernah liat tempat ini di acara tv, jd makin penasaran... :D
ternyata niat jadi "backpacker premium" itu belum padam ya ;))
evafedele wrote on Apr 12, '06
Oom Ocon,... keyen euy laporan pandangan matanya. Jadi minat kesana...
suzannavivian wrote on Apr 13, '06
thanks for laporan pandangan matanya... menggelitik untuk melihatnya secara langsung nih.. keep posting bro!
farahinwonderland wrote on Apr 13, '06
you jump i jump!!! ke jump!!!
artson wrote on Apr 13, '06
Ntarrr aku lupa, kayaknya pernah nonton tuhh film... dicerita itu akhirnya dia bs ke amrik dan ngumpul dgn keluarganya yg lbh dulu imigrasi... bener gak?


Iyah bener.... dia bisa bertemu dengan (sebagian) keluarganya di Amerika, satui kesalahan besar dia pada saat balik lagi ke Phnom Penh pada tahun 1996 dia ditembak orang tak dikenal di jalanan kota Phnom Penh (yang diduga dilakukan oleh simpatisan khmer merah yang tidak suka dengan dia).. hiks kesian yah
artson wrote on Apr 13, '06
thanks for laporan pandangan matanya... menggelitik untuk melihatnya secara langsung nih.. keep posting bro!
Mbak Suz.... rasanya pilu dan miris ngelihat dengan mata kepala sendiri kalo tahu korban2nya itu mati dengan cara yang menyakitkan..... kemaren cuman setengah hari ..padahal soranya ada pemutaran film dokumnetar sejarah... kayanya bagus banget tapi ngga sempat tuh..
artson wrote on Apr 13, '06
wiegie said
Pol Pot itu setali tiga uang ama Westerling 'n Hitler yak?!
hmmm kayanya sama didi kempot dan tukang knalpot deh
evimeinar wrote on Apr 13, '06
artson said
dia bisa bertemu dengan (sebagian) keluarganya di Amerika, satui kesalahan besar dia pada saat balik lagi ke Phnom Penh pada tahun 1996 dia ditembak orang tak dikenal di jalanan kota Phnom Penh (yang diduga dilakukan oleh simpatisan khmer merah yang tidak suka dengan dia).. hiks kesian yah
:( iya
kalo skrg keadaannya masih seserem dlm gambaran film itu gak?
artson wrote on Feb 8, '07
:( iya
kalo skrg keadaannya masih seserem dlm gambaran film itu gak?


Tempatnya udah kaya musium hidup.... terawat dan da perbaikan sana-sini... tapi teteup berlama-lama disitu bikin meriding juga apalagi pas udah liat tengkorak2 dan yang pasti yang bikin meriding itu kekejaman polpotnya itu yang bikin "glek"
jawdz wrote on Feb 14, '07
malaysia boleh,aku benci peperangan
elokdyah wrote on Jan 16
Desember 2007 lalu aku ke Coeng Ek mas. Ngeri ya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help